Menikmati kelezatan Getuk Lindri, olahan karbohidrat dari singkong yang manis dan mengenyangkan. Cocok sebagai alternatif menu takjil buka puasa.
Memasuki pekan pertama bulan suci Ramadan 1447 Hijriah, warga Kota Semarang mulai berburu aneka ragam menu takjil untuk membatalkan puasa. Dari sekian banyak pilihan jajanan pasar yang dijajakan di pinggir jalan, ada satu kuliner tradisional berbahan dasar karbohidrat lokal yang pamornya tak pernah lekang oleh waktu. Makanan tersebut adalah Getuk Lindri, sebuah mahakarya kuliner Pulau Jawa yang terbuat dari singkong tumbuk bercita rasa manis dan legit. Kehadirannya di atas meja makan selalu sukses membangkitkan nostalgia masa kecil bagi warga yang tumbuh dan besar di era sembilan puluhan.
Secara klasifikasi pangan, Getuk Lindri sebenarnya masuk ke dalam kategori makanan pokok alternatif atau pengganjal perut yang sangat padat gizi. Bagi Anda yang memiliki kebiasaan menunda makan nasi berat setelah salat Maghrib atau Tarawih, mengonsumsi dua hingga tiga potong Getuk Lindri bersama secangkir teh hangat sudah lebih dari cukup untuk mengembalikan energi tubuh yang hilang. Teksturnya yang lembut, kenyal, dan mengenyangkan menjadikannya salah satu primadona takjil yang tidak hanya ramah di kantong, tetapi juga ramah bagi pencernaan yang baru saja beristirahat belasan jam.
Karbohidrat Lokal Pengganti Nasi
Jauh sebelum gandum dan roti menginvasi meja makan masyarakat modern, singkong merupakan salah satu sumber karbohidrat utama bagi masyarakat Jawa Tengah, termasuk Semarang. Di masa penjajahan dan era awal kemerdekaan ketika beras putih menjadi komoditas mewah yang sulit dijangkau, singkong tampil sebagai penyelamat dari ancaman kelaparan. Akar umbi ini sangat mudah ditanam di lahan kritis sekalipun, seperti di kawasan perbukitan Gunungpati atau Mijen, dan mampu menghasilkan panen yang melimpah dengan harga yang sangat merakyat.
Untuk menghilangkan kebosanan menyantap singkong rebus biasa, nenek moyang kita berinovasi dengan menghaluskan singkong matang bersama gula aren atau gula pasir. Hasil tumbukan halus inilah yang menjadi cikal bakal Getuk Lindri. Proses penghalusan ini memecah serat kasar singkong menjadi karbohidrat yang lebih mudah dicerna oleh lambung, sekaligus mencampurkan glukosa sebagai sumber tenaga instan. Perpaduan antara karbohidrat kompleks dari singkong dan gula sederhana menjadikannya menu pembuka puasa yang sangat logis secara medis untuk menaikkan kadar gula darah dengan cepat namun tetap mengenyangkan.
Ciri Khas Bentuk Dan Warna
Salah satu daya tarik utama Getuk Lindri yang membuatnya mudah dikenali dari kejauhan adalah bentuk fisiknya yang sangat unik. Berbeda dengan varian getuk biasa (getuk gulung) atau getuk trio dari Magelang, Getuk Lindri dicetak menggunakan alat pres khusus yang menghasilkan untaian panjang menyerupai mi atau pasta tebal. Untaian-untaian mi singkong tersebut kemudian dipotong dan digulung memadat menjadi balok-balok kecil seukuran gigitan. Bentuk berserat rapat ini memberikan sensasi tekstur kenyal dan berlapis saat dikunyah di dalam mulut.
Selain bentuknya yang menyerupai mi, warna-warni cerah yang membalut tubuh Getuk Lindri adalah magnet visual yang sangat kuat. Jajanan ini identik dengan warna merah muda cerah, hijau pandan, kuning terang, dan putih gading yang ditata rapi secara berdampingan di dalam nampan kaca gerobak. Penggunaan pewarna makanan ini awalnya bertujuan untuk menarik perhatian anak-anak agar menyukai makanan tradisional. Di momen bulan puasa, warna-warni cantik ini berperan ganda sebagai stimulan penambah nafsu makan (*appetite stimulant*) yang sangat efektif bagi siapa saja yang sedang menahan dahaga dan lapar.
Taburan Kelapa Penyeimbang Rasa
Menikmati Getuk Lindri rasanya tidak akan pernah sah dan paripurna tanpa kehadiran taburan kelapa parut di atasnya. Kelapa yang digunakan bukanlah kelapa tua yang biasa dijadikan santan masakan, melainkan kelapa setengah muda yang dagingnya masih terasa renyah dan sedikit manis. Kelapa parut ini biasanya dikukus terlebih dahulu dengan tambahan sedikit garam dan daun pandan agar tidak mudah basi, mengingat cuaca pesisir Kota Semarang yang cukup panas dan lembap bisa membuat makanan bersantan cepat berbau tengik jika dibiarkan di ruang terbuka.
Kehadiran kelapa parut kukus ini memiliki fungsi gastronomi yang sangat krusial, yaitu sebagai penyeimbang rasa (*flavor balancer*). Getuk Lindri pada dasarnya memiliki profil rasa yang sangat dominan manis dan legit dari campuran gula pasir di dalam adonan singkongnya. Taburan kelapa muda yang gurih dan sedikit asin akan memecah dominasi rasa manis tersebut sehingga tidak membuat enek (*giung*) saat dimakan dalam jumlah banyak. Selain itu, kandungan lemak nabati sehat pada kelapa membantu memperlambat laju penyerapan gula di dalam tubuh, menahan rasa kenyang hingga waktu salat Tarawih selesai.
Gerobak Ikonik Berbalut Musik Dangdut
Membicarakan Getuk Lindri di Semarang maupun kota-kota lain di pesisir Jawa tidak bisa dilepaskan dari fenomena gerobak kelilingnya yang sangat ikonik. Anda tidak perlu repot-repot keluar rumah atau pergi ke pasar tradisional untuk mencari jajanan ini. Penjual Getuk Lindri biasanya menggunakan gerobak dorong bercat cerah yang bagian tengahnya dimodifikasi layaknya etalase kaca tembus pandang. Mereka akan berkeliling dari satu gang ke gang lain, menyusuri padatnya kawasan permukiman warga sejak matahari mulai condong ke barat.
Ciri khas paling legendaris dari penjual keliling ini adalah penggunaan pengeras suara (*speaker* Toa) raksasa yang diletakkan di atap gerobak. Alih-alih meneriakkan kata "getuk", mereka memutar lagu-lagu dangdut koplo, campursari, hingga tarling Pantura dengan volume yang sangat memekakkan telinga. Strategi *marketing* yang bising namun unik ini terbukti sangat efektif sebagai penanda kedatangan (*signature alarm*) bagi ibu-ibu dan anak-anak yang sedang duduk *ngabuburit* di teras rumah. Mendengar sayup-sayup dentuman *bass* dangdut dari ujung jalan adalah sinyal bahwa takjil manis nan mengenyangkan akan segera tiba di depan pagar rumah Anda.
Kesimpulan
Getuk Lindri adalah representasi sempurna dari ketahanan pangan dan kreativitas kuliner masyarakat Nusantara di masa lampau. Mengubah bahan makanan pokok murah meriah seperti singkong menjadi hidangan penutup yang cantik, lezat, dan mengenyangkan adalah sebuah seni yang patut dilestarikan. Di tengah gempuran aneka jajanan kekinian dan *dessert* modern ala Barat yang membanjiri kafe-kafe di Semarang, eksistensi gerobak Getuk Lindri dengan musik dangdutnya adalah kepingan memori kolektif yang menghangatkan suasana sore hari di bulan suci Ramadan.
Jika sore ini Anda mendengar alunan musik campursari berdentum nyaring mendekati rumah Anda, jangan ragu untuk menyetop gerobak tersebut. Membeli beberapa potong Getuk Lindri tidak hanya akan menyelamatkan perut Anda saat kumandang azan Maghrib tiba, tetapi juga turut memutar roda ekonomi para pedagang kecil yang terus berjuang mempertahankan warisan rasa lokal Jawa Tengah. Mari berbuka puasa dengan yang manis, mengenyangkan, dan penuh akan nilai historis dari sepotong singkong.
COMMENTS