Ulasan lengkap ragam gorengan favorit buka puasa: Bakwan, Mendoan, Tahu Isi, hingga Risol. Tips sehat konsumsi gorengan agar tidak batuk saat Ramadan.
Ada pepatah tidak tertulis di masyarakat kita: "Belum afdol berbuka kalau belum kena yang kriuk-kriuk". Meskipun ahli kesehatan menyarankan berbuka dengan kurma atau air putih, faktanya antrean di gerobak penjual gorengan selalu mengular panjang menjelang adzan Maghrib. Aroma minyak panas yang menggoreng adonan tepung berpadu dengan bawang putih dan daun bawang seolah menjadi "parfum" resmi jalanan Indonesia di bulan Ramadan. Gorengan bukan sekadar makanan, ia adalah kultur, kenyamanan (*comfort food*), dan simbol kebersamaan yang murah meriah.
Fenomena ini unik karena melintasi batas status sosial. Mulai dari pekerja bangunan hingga eksekutif berdasi, semua tampak menikmati gigitan pertama pada sepotong bakwan hangat atau tempe mendoan. Rasa gurih, tekstur renyah, dan sensasi berminyak di bibir memberikan kepuasan instan (*guilty pleasure*) setelah seharian menahan lapar. Namun, di balik kelezatannya, kita perlu mengenali jenis-jenis gorengan "Legendaris" yang wajib ada, serta bagaimana cara menikmatinya dengan lebih bijak agar tidak tumbang karena radang tenggorokan di tengah bulan puasa.
Bakwan Sayur Sang Primadona Kriuk
Di urutan pertama tahta gorengan, berdiri gagah **Bakwan Sayur** (atau disebut *Bala-bala* di Jawa Barat, *Ote-ote* di Jawa Timur). Gorengan ini adalah definisi dari keajaiban tepung terigu yang menyatukan potongan kol, wortel, dan tauge. Bakwan yang sempurna memiliki tekstur kontras: garing dan renyah di bagian pinggirannya yang tipis, namun tetap lembut dan sedikit kenyal di bagian tengahnya yang tebal. Aroma udang rebon yang kadang ditambahkan pedagang semakin menambah kekayaan rasa umami yang meledak di mulut.
Cara menikmati bakwan sayur pun bervariasi. Ada aliran puritan yang memakannya langsung dengan gigitan cabai rawit hijau (*cengek*) untuk sensasi pedas yang "nendang". Ada pula aliran manis-gurih yang menyiramnya dengan sambal kacang encer. Apapun caranya, bakwan sayur adalah sumber karbohidrat dan sedikit serat (dari sayuran) yang paling cepat mengembalikan energi, meski harus diakui kandungan minyaknya cukup tinggi. Tips membuatnya di rumah: gunakan air es saat mengaduk adonan tepung untuk hasil yang lebih *crispy* tahan lama.
Tempe Mendoan Lembut Menggoda
Berbeda dengan bakwan yang mengejar kerenyahan, **Tempe Mendoan** justru dicintai karena ketidaksempurnaannya yang "lembek". Berasal dari eks-Karesidenan Banyumas, kata "Mendo" berarti setengah matang. Tempe tipis lebar dibalut tepung berbumbu kencur dan ketumbar, lalu digoreng sebentar dalam minyak panas melimpah. Hasilnya adalah gorengan yang layu, berminyak, namun memiliki aroma rempah yang sangat kuat dan tekstur tempe yang *juicy*.
Mendoan adalah jodoh sejati bagi kecap manis pedas. Cocolan kecap yang diberi irisan cabai rawit dan bawang merah mentah memberikan keseimbangan rasa manis, pedas, dan segar untuk menetralisir rasa berminyak dari tempe. Bagi sebagian orang, satu lembar mendoan tidak akan pernah cukup. Ukurannya yang lebar seringkali menipu mata, padahal teksturnya yang ringan membuatnya mudah meluncur ke tenggorokan, menjadikannya musuh utama bagi mereka yang sedang menjaga berat badan saat puasa.
Tahu Isi Kejutan Di Dalam
Kategori selanjutnya adalah gorengan "berisi", dengan **Tahu Isi** (atau *Gehu* di tanah Sunda) sebagai pemimpinnya. Tahu kulit atau tahu pong yang kopong diisi dengan tumisan sayuran (wortel, tauge, bihun) yang sudah dibumbui pedas, lalu dibalut tepung dan digoreng garing. Keistimewaan tahu isi terletak pada kompleksitas teksturnya: kulit luar yang renyah, daging tahu yang *spongy*, dan isian sayur yang basah dan gurih. Ini adalah paket lengkap lauk dalam satu genggaman.
Varian lain yang tak kalah populer adalah **Risol Mayo** atau **Risol Ragout**. Jika tahu isi mewakili cita rasa tradisional, risol mewakili sentuhan modern. Kulit lumpia yang dibalut tepung panir (*bread crumbs*) memberikan tekstur *crunchy* yang berbeda. Isian mayones, telur rebus, dan *smoked beef* yang lumer di mulut memberikan sensasi *creamy* yang mewah. Risol seringkali menjadi pilihan favorit anak-anak karena rasanya yang tidak terlalu tajam bumbunya dibandingkan gorengan tradisional lainnya.
Si Manis Pisang Dan Ubi
Bagi mereka yang menganut aliran "berbuka dengan yang manis", gorengan tidak melulu harus gurih. **Pisang Goreng** adalah rajanya takjil manis. Pisang kepok atau tanduk yang matang pohon, dibalut adonan tepung beras dan sedikit vanili, menghasilkan rasa manis karamel alami yang keluar saat digoreng. Varian modern seperti *Pisang Molen* (dibalut kulit pastry tipis) atau *Pisang Goreng Madu* (adonan hitam manis yang lengket) kini semakin mendominasi pasar takjil kekinian.
Selain pisang, ada juga **Ubi Goreng** dan **Gandasturi** (kacang hijau). Ubi jalar kuning atau ungu yang digoreng tepung memiliki rasa manis yang *earthy* dan mengenyangkan. Sementara Gandasturi adalah gorengan klasik yang mulai langka, terbuat dari kumbu kacang hijau yang dihaluskan. Gorengan manis ini sangat cocok disantap bersama teh hangat tawar (*teh tubruk*) untuk menyeimbangkan kadar gula, memberikan energi instan sebelum melaksanakan sholat Maghrib.
Tips Sehat Makan Gorengan
Meskipun nikmat, kita tidak boleh menutup mata pada risiko kesehatan. Gorengan kaya akan lemak trans dan kalori kosong yang bisa memicu radang tenggorokan, kolesterol, hingga kenaikan berat badan drastis saat Lebaran. Kuncinya adalah moderasi. Batasi konsumsi maksimal 1-2 potong saja saat berbuka. Jangan jadikan gorengan sebagai menu utama pengganti nasi, melainkan hanya sebagai *appetizer* (pembuka). Pastikan Anda minum air putih minimal 2 gelas setelah makan gorengan untuk membantu meluruhkan minyak di kerongkongan.
Jika memungkinkan, buatlah gorengan sendiri di rumah (*homemade*). Dengan memasak sendiri, Anda bisa memastikan minyak yang digunakan adalah minyak baru (bukan minyak jelantah hitam), mengontrol ketebalan tepung, dan memperbanyak isian sayuran. Tiriskan gorengan di atas tisu penyerap minyak atau gunakan *Air Fryer* untuk mengurangi kadar lemak hingga 80%. Dengan cara ini, Anda tetap bisa menikmati tradisi "kriuk" Ramadan tanpa harus mengorbankan kesehatan tubuh di hari Raya nanti.
Kesimpulan
Gorengan adalah bagian tak terpisahkan dari lanskap kuliner Ramadan Indonesia. Kehadirannya menghangatkan suasana dan menyatukan berbagai kalangan di meja makan. Baik itu Bakwan, Mendoan, atau Pisang Goreng, semuanya memiliki tempat spesial di lidah kita. Silakan dinikmati, namun ingatlah untuk tetap bijak mengatur porsi agar ibadah puasa tetap lancar dengan tubuh yang fit dan bugar. Selamat berburu takjil!
COMMENTS